Thursday, January 23, 2025

Melati Sukma Tiada Lara

 


=======================================================================

Cerpen ini dibuat Prompt nya dadakan saat mengisi kelas menulis "Eksekusi Outline Jadi Cerpen Keren dalam Hitungan Detik". Kemudian dilakukan revisi manual sehingga dihasilkan naskah yang lebh enak dibaca.

Crpen ini masuk ke dalam Buku Antologi "Vina Sebelum Tujuh Lari" terbitan JP Creative.

=======================================================================


*Judul: Melati Sukma Tiada Lara*  

*Oleh: Jaka Palied*

*Genre: Roman Horor*

---

Bulan purnama memancarkan cahaya pucat, menyinari desa kecil di tepi hutan. Di sebuah rumah tua dengan dinding berlumut, Rangga duduk di depan komputer. Mata cekungnya menatap layar kosong, jari-jarinya mengetuk meja tanpa irama. Ia sudah terbiasa dengan kesendirian, namun malam itu, keheningan terasa lebih menusuk.  

*Krek... krek...*

Dari sudut kamar, suara kursi berderit membuatnya tersentak. Tapi tak ada siapa pun di sana. Rangga mengusap wajahnya, mencoba melupakan suara itu. Ia tahu, kesendiriannya telah membuat pikirannya melayang.  

"Kenapa hidupku selalu sepi?" gumamnya, suaranya hampir tak terdengar.  

Desas-desus tentang sebuah jimat kuno mulai memenuhi pikirannya. Konon, jimat itu mampu memanggil sosok kuntilanak yang bisa menemani orang yang kesepian. Tanpa berpikir panjang, Rangga mendatangi seorang nenek tua di ujung desa yang dipercaya memiliki jimat tersebut.  

"Ini bukan mainan, Nak," ujar nenek itu sambil menyerahkan kain merah kecil yang melilit sebuah batu. "Jika kau tidak siap dengan konsekuensinya, lebih baik kau tidak memanggilnya."  

Tapi Rangga tidak peduli. Di pikirannya, hanya ada satu hal: mengakhiri kesepian.

---

Malam itu, di dalam kamar yang hanya diterangi oleh lilin, Rangga memulai ritualnya. Ia membuka kain merah dan meletakkan batu jimat di tengah lingkaran lilin. Mantra kuno yang dihafalnya dari buku tua meluncur dari bibirnya.  

"Aing jomblo... aing hayang jodo. Lara geura datang. Teu make hahalang."  

Begitu mantra terakhir selesai, ruangan menjadi dingin. Lilin-lilin berkedip seperti hendak padam, dan suara langkah kaki terdengar dari arah pintu. 

*Tok... tok... tok...* 

Suara itu mendekat, meskipun pintu tetap terkunci.  

Lalu, suara tawa kecil menyayat telinga. *Hihihi...*  

Lilin padam seketika, dan dalam gelap, Rangga merasakan hawa dingin menjalari tubuhnya. Ketika ia membuka matanya, sosok wanita bergaun putih berdiri di depannya. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajah, namun senyum lebarnya yang tidak wajar menyala di kegelapan.  

"Namaku Lara," ujarnya dengan suara melengking. "Kau memanggilku, dan sekarang, aku di sini."  

---

Hari-hari berikutnya, Lara tidak seperti yang Rangga bayangkan. Bukannya menjadi pendamping, ia justru menjadi mimpi buruk. Malam pertama, Rangga mendengar suara langkah di atas atap rumahnya, diikuti suara ketukan dari dinding kamar.  

*Tok... tok... tok...*  

Saat ia membuka mata, sosok Lara berdiri di sudut kamar, menatapnya tanpa berkedip. "Tidakkah kau kesepian, Rangga?" tanyanya sambil tersenyum lebar.  

Lara tidak hanya menghantui Rangga, tetapi juga mulai menyebarkan kengerian ke desa. Di malam-malam tertentu, warga mendengar suara tawa melengking di tengah hutan. Hewan peliharaan menghilang, dan ladang padi mendadak kering tanpa sebab.  

Suatu malam, seorang petani menemukan bayangan wanita bergaun putih berdiri di tengah sawah. Ketika ia mendekat, sosok itu menghilang, meninggalkan bau melati yang menusuk.

"Juriiiig!" Petani itu lari tunggang langgang sampai terjerembab ke sawah becek.

Brush!

"Hiiii ...!" 

Dia terus berlari walau tubuhnya penuh lumpur. Sementara tawa mengerikan mengiringi di belakang.

Warga mulai menyalahkan Rangga. "Itu karena dia memanggil sesuatu yang terkutuk!" teriak seorang tetua desa.  

---

Namun, di balik semua teror itu, Rangga mulai melihat sisi lain dari Lara. Suatu malam, ia mendapati Lara duduk di beranda, menatap langit dengan mata penuh kesedihan.  

"Aku bukan seperti ini sejak awal," ucap Lara pelan. "Aku dulu hanya seorang wanita biasa. Tapi cinta yang menghancurkanku membuatku terjebak dalam kutukan ini."  

"Cinta? Apa maksudmu?" tanya Rangga.  

Lara hanya tersenyum samar, namun dari matanya, Rangga melihat air mata yang tidak pernah ia bayangkan bisa dimiliki oleh kuntilanak.  

--- 

Ketegangan mencapai puncaknya ketika seorang anak kecil ditemukan hilang di hutan. Warga desa, yang sudah lama gelisah, berkumpul membawa obor dan senjata seadanya.  

"Malam ini kita usir makhluk itu!" seru salah seorang warga.  

Rangga mencoba menyembunyikan Lara, namun suara ketukan dari pintu semakin mendesak. 

*Tok... tok... tok...*  

"Rangga, keluarlah! Kami tahu dia ada di sana!"  

"Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu," bisik Rangga.  

Namun, Lara menatapnya dengan senyum sedih. "Ini semua salahku. Kau sudah cukup menderita karena aku. Biarkan aku pergi."  

Sebelum Rangga sempat menahan, Lara melangkah keluar. Warga yang melihatnya langsung menyerbu dengan teriakan penuh amarah.  

--- 

Saat warga mendekat, tubuh Lara perlahan memudar menjadi kabut tipis. Hanya aroma melati yang tertinggal, menyelimuti desa dalam keheningan yang mencekam.  

Rangga jatuh berlutut, air matanya mengalir deras. "Lara! Jangan pergi!"  

Namun, suara lembut Lara terdengar di telinganya. "Cinta tulusmu telah membebaskanku, Rangga. Aku tidak lagi terkutuk. Tapi kita tidak bisa bersama. Selamat tinggal."  

Di pagi hari, Rangga menemukan setangkai melati di meja kamarnya, dengan tulisan:  

"Aku akan menunggumu di batas dunia."  

Sementara di luar warga desa dihebohkan dengan penemuan anak yang hilang. Ternyata malam itu dia menginap di rumah temannya. Karena temannya ditinggal orang tuanya yang mendadak harus masuk rumah sakit di kota.

Hewan-hewan yang hilang pun ternyata dibawa oleh Harimau yang lepas dari Taman Satwa di Desa sebelah. Beberapa sisa potongan tubuh dan tulangnya ditemukan dalam Gua tempat harimau itu ditangkap.

"Wah, Jadi bukan ulah Kunti blekuwek itu ya!" Celetuk seorang warga.

Cuitan warga bersahutan, terhenti ketika melihat Rangga berdiri mematung. Menatap mereka dengan tatapan penuh penyesalan.

"Maafkan kami, Rangga. Kami telah salah mengira." Pak Lurah meminta maaf

"Tak apa, Pak. Lara sudah pergi. Dan kepergiannya membawa luka. Namun apalah daya, ini sudah suratan takdir. Saya masih tetap melajang, entah sampai kapan." Ucap Rangga lirih, sembari melangkah masuk ke rumahnya.

"Aku akan mendoakan mu, Lara." Bisik Rangga.

---

Mulai hari itu, Rangga berusaha untuk menjadi lebih baik. Ia sering mendoakan Lara. Meminta setiap kesalahan Lara dimaafkan.

"Terima kasih, Rangga. Aku sudah tenang di ujung dunia, saatnya kau memulai kehidupanmu," Suatu hari, suara Lara terdengar di telinga Rangga.

Saat itu Rangga berada di antara sadar dan kantuknya. Ia baru menyelesaikan tahujudnya. Rangga tersenyum. 

Rangga melanjutkan kehidupannya. Lima tahun berselang ia menikah dengan Sulastri anak Kepala Desa sebelah. Kemudian memiliki anak perempuan cantik yang diberi nama "Melati Sukma Tiada Lara."

---

Bertahun-tahun kemudian, saat Rangga terbaring di ranjang kematian, ia mencium aroma melati yang sama. Sebelum napas terakhirnya, ia melihat sosok Lara berdiri di dekatnya, tersenyum lembut.  

"Sudah waktunya," bisik Lara.  

Rangga mengulurkan tangan, dan bersama Lara, ia menghilang ke dalam cahaya.  

---

Loper Boy

 

The Loper Boy 

By : Abdurrahim Erwan (Jaka Palied)

======================================================================

Ini adalah kisah yang diadaptasi dari pengalamanpribadi saya ketika masih sekolah dulu. kemudian saya ubah endingnya. Pengetikan Cerpen ini dibantu AI. Cerpen ini diterbitkan dalam Antologi Akhir Tahun bersama JP Creative

=======================================================================

Kukuruyuk ...!

Suara kukuruyuk ayam jantan memecah keheningan subuh di kampung kecil pinggiran kota. Santoso, bocah SMP kelas satu, membuka matanya. Ia melirik jam dinding yang nyaris berhenti berdetak—pukul 4.15 pagi. Dalam remang kamar yang penuh poster pahlawan nasional, ia meraih buku pelajaran IPA.  

"Ada tugas tentang tumbuhan dikotil hari ini," gumamnya sambil menggaruk kepala. Buku itu usang, dengan halaman-halaman yang sudah menguning. Tapi Santoso membacanya serius.  

"Tehnya diminum dulu," Ibu Sri menyuguhkan segelas besar teh manis hangat. Ibunya memang selalu setia menyiapkan minuman untuknya.

" Iya, Bu. Terima kasih." Ujar Santoso. Teh buatan Ibu memang paling enak.

Di ruang tamu, Bapaknya sudah sibuk dengan mesin jahitnya. Suara dinamo mesin jahit terdengar merdu di telinga Santoso kecil.

Sementara kedua adiknya masih tergeletak pulas.

Azan subuh berkumandang dari masjid dekat rumah. Santoso menutup bukunya, menyiapkan sajadah, lalu bergegas mengambil air wudu.  

---

Seusai salat, Santoso mengenakan kaos oblong yang sudah pudar warnanya dan celana pendek kedodoran. Ia mendorong sepedanya yang berkarat menuju agen koran di ujung kampung.  

Di lapak kecil itu, Bang Simamora—pria Batak bertubuh besar dengan suara yang bisa menggema ke seluruh kampung—sudah berdiri di depan tumpukan koran pagi. Wajahnya keras, tapi senyumnya hangat.  

"Nah, anak jagoanku datang. Lambat kali kau hari ini, To!" serunya dengan logat Medan yang kental.  

"Enggak, Bang. Tadi belajar dulu," jawab Santoso sambil mengikat sepedanya di tiang bambu.  

Bang Simamora terkekeh. "Belajar biar pinter ya? Jangan kayak kawan-kawan kau itu, malasnya numpang hidup. Sini-sini, ini jatah kau!"  

Santoso menghampiri, menerima tumpukan koran yang diikat dengan tali rafia. Ia melirik daftar pelanggan yang terus bertambah. "Bang, ada pelanggan baru lagi?"  

"Hebat kali kau ini, To. Ada empat orang baru. Tapi dengar ya, jangan sampai kawan-kawan kau ngamuk gara-gara kau ngambil rute mereka!"  

"Siap, Bang. Saya kan tahu aturan."  

Bang Simamora tertawa lebar, menepuk pundak Santoso. "Bagus kau ini. Beda sama si Badrun itu. Kerja malas, mulutnya panjang macam emak-emak gosip."  

Santoso tertawa kecil, lalu mengikat tumpukan koran di boncengan sepedanya.  

kreek-kreek!

Ia mulai mengayuh, suara rantai sepedanya terdengar di antara kicauan burung.  

---

Santoso ingat betul bagaimana ia memulai perjalanan menjadi loper koran. Waktu itu, ia harus mencari rute yang jauh dari jangkauan loper lain.  

Ia mengayuh sepeda hingga ke perumahan elite yang jaraknya lebih dari dua kilometer dari kampungnya. Rumah-rumah besar dengan pagar tinggi tampak sepi. Tapi Santoso tidak menyerah.  

"Permisi, Bu. Saya loper koran dari agen Bang Simamora. Mau langganan koran pagi?" tanyanya pada seorang ibu yang sedang menyapu halaman.  

Ibu itu mengangkat alis. "Wah, anak sekecil ini sudah cari uang? Langganan, deh. Tapi jangan telat, ya."  

"Siap, Bu! Terima kasih!"  

Senyum Santoso melebar. Hari itu, ia berhasil mendapatkan lima pelanggan baru. Semangatnya semakin membara.  

---

Kesuksesan Santoso ternyata membuat iri Badrun, loper koran lain yang dikenal malas dan suka mencari masalah. Suatu sore, setelah menyelesaikan pengantaran, Santoso duduk di lapak Bang Simamora sambil menikmati teh hangat.  

Dug-dug-dug

Tiba-tiba, suara langkah kaki kasar terdengar. Badrun muncul bersama dua temannya, wajahnya masam seperti orang yang habis kalah judi.  

"To! Lo ngambil pelanggan gue, ya?" bentaknya sambil menunjuk Santoso dengan jari yang kasar.  

Santoso menoleh perlahan. "Ngambil pelanggan? Maksud lo apa, Dun?"  

"Pura-pura bego lagi! Pelanggan gue di Blok C pindah semua ke lo!"  

"Itu karena lo sering telat ngantar koran, Dun. Gue nggak pernah main curang."  

Wajah Badrun memerah. "Mulut lo lancang, ya!" Dengan gerakan cepat, ia menarik kerah kaos belel Santoso, membuat tubuh kecilnya hampir terangkat.  

Braak!

Peang!

Gelas teh jatuh dari tangan Santoso, pecah di lantai. Teman-teman loper lain langsung berdiri.  

"Udah, Dun! Jangan main kasar!" seru salah satu dari mereka sambil memisahkan keduanya.  

Tapi Badrun terus mendorong-dorong Santoso. "Lo pikir lo jagoan di sini, hah? Gue nggak bakal biarin lo menang terus!"  

Suara berat Bang Simamora tiba-tiba terdengar, membuat semua orang terdiam. "Apa pula ini ribut-ribut kayak anak kecil? Hah?"  

Badrun langsung melepaskan Santoso dan menunduk. "Bang, dia ngambil pelanggan gue!"  

Bang Simamora menatap tajam. "Pelanggan pindah karena kau malas, Dun. Kalau kau rajin macam si Santoso ini, nggak mungkin mereka lari. Paham kau?"  

Badrun hanya menggerutu pelan, lalu pergi dengan wajah masam. Teman-temannya mengikutinya sambil diam-diam melirik Santoso.  

---  

Setelah suasana tenang, Bang Simamora duduk di bangku depan lapaknya, merokok dengan santai. Santoso duduk di sebelahnya, memegang gelas teh baru yang diberikan oleh salah satu teman loper.  

"To, kau hebat kali, ya? Masih kecil, tapi rajin. Salatnya aja nggak pernah bolong. Kalau gue, seminggu sekali ke gereja aja kadang malas," kata Bang Simamora sambil terkekeh.  

Santoso tersenyum kecil. "Manusia banyak dosa, Bang. Makanya harus banyak ibadah. Salat itu kayak ngisi ulang tenaga."  

Bang Simamora terdiam, meresapi kata-kata itu. "Pinter kali kau, ya. Gue jadi malu. Anak kecil malah lebih ngerti hidup daripada gue."  

Santoso tertawa kecil, tapi hatinya hangat mendengar pujian itu.  

---

Splash!

Di balik kaca ruang kerjanya,  Santoso kini berdiri. Ia  mengenakan jas rapi. Gedung tempatnya bekerja adalah salah satu gedung tertinggi di Jakarta.  

Ia adalah manajer di perusahaan penerbitan besar, mengawasi distribusi media cetak yang kini bertransformasi ke dunia digital.  

Di mejanya, terdapat foto lama: sebuah sepeda butut dengan tumpukan koran di boncengannya. Santoso tersenyum kecil, mengingat hari-hari ketika ia mengayuh sepeda setiap pagi.  

"Semua dimulai dari sini," gumamnya sambil menatap foto itu.  

Meski dunia telah berubah, kenangan menjadi loper koran tetap melekat di hatinya. Kini, ia tidak hanya menjadi seorang manajer sukses, tapi juga seorang pemimpin yang terus belajar dari kerja keras masa lalunya.  


*Rampung*


Bersahabat dengan Kecerdasan Buatan (Ai)




 Sobat ...

Kecerdasan Buatan atau yang dikenal dengan AI, adalah alat yang memudahkan kitra mencipta hasil karya buah imajinasi. Sebagai alat, Ai tidak bisa berdiri sendiri. Dia tetap membutuhkan Brain Power dari manusia.

Belakangan ini saya  membuat eksperimen menggunaknan teknologi AI untuk membantu menyelasikan dua novel saya. Yang pertama sudah mangkrak tiga tahun, dan yang kedua baru dapat idenya. alhasil, yang pertama sudah masuk Bab 6 dan yang kedua masuk bab 8.

Kemudian secara random saya mencoba menggenrate beberapa cerita horor komedi yang ada di sudut laci imajnasi saya. Alhamdulillah dihasilkan 13 Cerpen dalam waktu kurang dari satu minggu. Luar Biasa!

D blog sederhana ini, saya ingin membagikan beberapa karya hasil imajinasi yang dikawinkan dengan AI. semoga menginspirasi teman-teman semua.

Melati Sukma Tiada Lara

  ======================================================================= Cerpen ini dibuat Prompt nya dadakan saat mengisi kelas menulis ...