Thursday, January 23, 2025

Loper Boy

 

The Loper Boy 

By : Abdurrahim Erwan (Jaka Palied)

======================================================================

Ini adalah kisah yang diadaptasi dari pengalamanpribadi saya ketika masih sekolah dulu. kemudian saya ubah endingnya. Pengetikan Cerpen ini dibantu AI. Cerpen ini diterbitkan dalam Antologi Akhir Tahun bersama JP Creative

=======================================================================

Kukuruyuk ...!

Suara kukuruyuk ayam jantan memecah keheningan subuh di kampung kecil pinggiran kota. Santoso, bocah SMP kelas satu, membuka matanya. Ia melirik jam dinding yang nyaris berhenti berdetak—pukul 4.15 pagi. Dalam remang kamar yang penuh poster pahlawan nasional, ia meraih buku pelajaran IPA.  

"Ada tugas tentang tumbuhan dikotil hari ini," gumamnya sambil menggaruk kepala. Buku itu usang, dengan halaman-halaman yang sudah menguning. Tapi Santoso membacanya serius.  

"Tehnya diminum dulu," Ibu Sri menyuguhkan segelas besar teh manis hangat. Ibunya memang selalu setia menyiapkan minuman untuknya.

" Iya, Bu. Terima kasih." Ujar Santoso. Teh buatan Ibu memang paling enak.

Di ruang tamu, Bapaknya sudah sibuk dengan mesin jahitnya. Suara dinamo mesin jahit terdengar merdu di telinga Santoso kecil.

Sementara kedua adiknya masih tergeletak pulas.

Azan subuh berkumandang dari masjid dekat rumah. Santoso menutup bukunya, menyiapkan sajadah, lalu bergegas mengambil air wudu.  

---

Seusai salat, Santoso mengenakan kaos oblong yang sudah pudar warnanya dan celana pendek kedodoran. Ia mendorong sepedanya yang berkarat menuju agen koran di ujung kampung.  

Di lapak kecil itu, Bang Simamora—pria Batak bertubuh besar dengan suara yang bisa menggema ke seluruh kampung—sudah berdiri di depan tumpukan koran pagi. Wajahnya keras, tapi senyumnya hangat.  

"Nah, anak jagoanku datang. Lambat kali kau hari ini, To!" serunya dengan logat Medan yang kental.  

"Enggak, Bang. Tadi belajar dulu," jawab Santoso sambil mengikat sepedanya di tiang bambu.  

Bang Simamora terkekeh. "Belajar biar pinter ya? Jangan kayak kawan-kawan kau itu, malasnya numpang hidup. Sini-sini, ini jatah kau!"  

Santoso menghampiri, menerima tumpukan koran yang diikat dengan tali rafia. Ia melirik daftar pelanggan yang terus bertambah. "Bang, ada pelanggan baru lagi?"  

"Hebat kali kau ini, To. Ada empat orang baru. Tapi dengar ya, jangan sampai kawan-kawan kau ngamuk gara-gara kau ngambil rute mereka!"  

"Siap, Bang. Saya kan tahu aturan."  

Bang Simamora tertawa lebar, menepuk pundak Santoso. "Bagus kau ini. Beda sama si Badrun itu. Kerja malas, mulutnya panjang macam emak-emak gosip."  

Santoso tertawa kecil, lalu mengikat tumpukan koran di boncengan sepedanya.  

kreek-kreek!

Ia mulai mengayuh, suara rantai sepedanya terdengar di antara kicauan burung.  

---

Santoso ingat betul bagaimana ia memulai perjalanan menjadi loper koran. Waktu itu, ia harus mencari rute yang jauh dari jangkauan loper lain.  

Ia mengayuh sepeda hingga ke perumahan elite yang jaraknya lebih dari dua kilometer dari kampungnya. Rumah-rumah besar dengan pagar tinggi tampak sepi. Tapi Santoso tidak menyerah.  

"Permisi, Bu. Saya loper koran dari agen Bang Simamora. Mau langganan koran pagi?" tanyanya pada seorang ibu yang sedang menyapu halaman.  

Ibu itu mengangkat alis. "Wah, anak sekecil ini sudah cari uang? Langganan, deh. Tapi jangan telat, ya."  

"Siap, Bu! Terima kasih!"  

Senyum Santoso melebar. Hari itu, ia berhasil mendapatkan lima pelanggan baru. Semangatnya semakin membara.  

---

Kesuksesan Santoso ternyata membuat iri Badrun, loper koran lain yang dikenal malas dan suka mencari masalah. Suatu sore, setelah menyelesaikan pengantaran, Santoso duduk di lapak Bang Simamora sambil menikmati teh hangat.  

Dug-dug-dug

Tiba-tiba, suara langkah kaki kasar terdengar. Badrun muncul bersama dua temannya, wajahnya masam seperti orang yang habis kalah judi.  

"To! Lo ngambil pelanggan gue, ya?" bentaknya sambil menunjuk Santoso dengan jari yang kasar.  

Santoso menoleh perlahan. "Ngambil pelanggan? Maksud lo apa, Dun?"  

"Pura-pura bego lagi! Pelanggan gue di Blok C pindah semua ke lo!"  

"Itu karena lo sering telat ngantar koran, Dun. Gue nggak pernah main curang."  

Wajah Badrun memerah. "Mulut lo lancang, ya!" Dengan gerakan cepat, ia menarik kerah kaos belel Santoso, membuat tubuh kecilnya hampir terangkat.  

Braak!

Peang!

Gelas teh jatuh dari tangan Santoso, pecah di lantai. Teman-teman loper lain langsung berdiri.  

"Udah, Dun! Jangan main kasar!" seru salah satu dari mereka sambil memisahkan keduanya.  

Tapi Badrun terus mendorong-dorong Santoso. "Lo pikir lo jagoan di sini, hah? Gue nggak bakal biarin lo menang terus!"  

Suara berat Bang Simamora tiba-tiba terdengar, membuat semua orang terdiam. "Apa pula ini ribut-ribut kayak anak kecil? Hah?"  

Badrun langsung melepaskan Santoso dan menunduk. "Bang, dia ngambil pelanggan gue!"  

Bang Simamora menatap tajam. "Pelanggan pindah karena kau malas, Dun. Kalau kau rajin macam si Santoso ini, nggak mungkin mereka lari. Paham kau?"  

Badrun hanya menggerutu pelan, lalu pergi dengan wajah masam. Teman-temannya mengikutinya sambil diam-diam melirik Santoso.  

---  

Setelah suasana tenang, Bang Simamora duduk di bangku depan lapaknya, merokok dengan santai. Santoso duduk di sebelahnya, memegang gelas teh baru yang diberikan oleh salah satu teman loper.  

"To, kau hebat kali, ya? Masih kecil, tapi rajin. Salatnya aja nggak pernah bolong. Kalau gue, seminggu sekali ke gereja aja kadang malas," kata Bang Simamora sambil terkekeh.  

Santoso tersenyum kecil. "Manusia banyak dosa, Bang. Makanya harus banyak ibadah. Salat itu kayak ngisi ulang tenaga."  

Bang Simamora terdiam, meresapi kata-kata itu. "Pinter kali kau, ya. Gue jadi malu. Anak kecil malah lebih ngerti hidup daripada gue."  

Santoso tertawa kecil, tapi hatinya hangat mendengar pujian itu.  

---

Splash!

Di balik kaca ruang kerjanya,  Santoso kini berdiri. Ia  mengenakan jas rapi. Gedung tempatnya bekerja adalah salah satu gedung tertinggi di Jakarta.  

Ia adalah manajer di perusahaan penerbitan besar, mengawasi distribusi media cetak yang kini bertransformasi ke dunia digital.  

Di mejanya, terdapat foto lama: sebuah sepeda butut dengan tumpukan koran di boncengannya. Santoso tersenyum kecil, mengingat hari-hari ketika ia mengayuh sepeda setiap pagi.  

"Semua dimulai dari sini," gumamnya sambil menatap foto itu.  

Meski dunia telah berubah, kenangan menjadi loper koran tetap melekat di hatinya. Kini, ia tidak hanya menjadi seorang manajer sukses, tapi juga seorang pemimpin yang terus belajar dari kerja keras masa lalunya.  


*Rampung*


No comments:

Post a Comment

Melati Sukma Tiada Lara

  ======================================================================= Cerpen ini dibuat Prompt nya dadakan saat mengisi kelas menulis ...